Transformasi Industri Padat Karya Jadi Kunci Produktivitas Manufaktur RI

Kamis, 19 Februari 2026 | 10:19:06 WIB
Transformasi Industri Padat Karya Jadi Kunci Produktivitas Manufaktur RI

JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas manufaktur Indonesia semakin menjadi sorotan, baik oleh masyarakat domestik maupun lembaga internasional.

Bank Dunia, misalnya, menyoroti rendahnya produktivitas per kapita di sektor manufaktur Indonesia meskipun sektor ini menunjukkan pertumbuhan yang positif. 

Terkait hal tersebut, para ekonom dan pakar industri mendorong pemerintah untuk fokus pada transformasi industri padat karya sebagai langkah konkret untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Dengan demikian, Indonesia bisa memaksimalkan potensi manufaktur dan memperbaiki struktur industri yang ada.

Meningkatnya Pertumbuhan Manufaktur, Namun Produktivitas Tertinggal

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menjelaskan bahwa meskipun sektor manufaktur Indonesia mengalami peningkatan baik dalam hal kontribusi terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) maupun pertumbuhannya, kualitas produktivitas tenaga kerja tetap menjadi masalah besar. 

"Secara keseluruhan, pertumbuhan manufaktur nasional meningkat. Namun, jika dilihat dari segi produktivitas per kapita, kita masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara seperti Thailand, Malaysia, dan India," kata Telisa.

Pernyataan tersebut mengacu pada data produktivitas tenaga kerja Indonesia yang masih rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Pada 2022, produktivitas Indonesia tercatat sekitar US$28,6 per tenaga kerja, jauh di bawah rata-rata ASEAN yang mencapai sekitar US$30,2. 

Selain itu, meski angka produktivitas Indonesia menunjukkan peningkatan, laju kenaikannya masih tertinggal jauh di belakang negara-negara seperti China, Vietnam, dan Bangladesh. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada pertumbuhan sektor manufaktur, pencapaian produktivitas yang lebih tinggi masih belum maksimal.

Penyebab Tertinggalnya Produktivitas di Sektor Manufaktur

Menurut Telisa, penyebab utama rendahnya produktivitas per kapita ini adalah dominasi investasi yang masuk ke sektor industri padat modal, bukan padat karya. Hal ini berpengaruh terhadap teknologi yang digunakan, di mana transfer teknologi di sektor industri padat modal masih sangat terbatas. Industri seperti manufaktur otomotif atau elektronik yang menggunakan teknologi canggih membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja, namun mereka menghasilkan nilai tambah yang tinggi.

"Sebagian besar investasi yang masuk ke Indonesia cenderung ke sektor padat modal. Ini menyebabkan kita kesulitan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang bisa memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan sektor manufaktur," lanjutnya. Karena itu, dia menilai penting untuk mendorong transformasi di sektor industri padat karya agar dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

Langkah Konkrit untuk Meningkatkan Produktivitas Nasional

Sebagai solusi terhadap tantangan tersebut, Telisa mendorong penerapan pendekatan 4P yang melibatkan empat elemen utama: people (sumber daya manusia), process (proses), product (produk), dan policy (kebijakan). 

Pada aspek people, peningkatan kualitas SDM menjadi sangat penting, khususnya melalui pelatihan berbasis kompetensi dan persiapan untuk spesialis produktivitas.

Untuk meningkatkan process dan product, perusahaan, terutama di sektor skala menengah, perlu mengevaluasi dan mengintervensi langsung proses operasionalnya agar lebih efisien dan produktif.

Sedangkan dalam hal policy, Telisa menekankan pentingnya penguatan ekosistem produktivitas dengan membentuk lembaga produktivitas nasional yang memiliki wewenang untuk mengawasi dan mendorong kolaborasi antara sektor publik dan privat. 

Penghargaan untuk perusahaan yang mencapai hasil produktivitas terbaik, serta penguatan jejaring internasional dengan lembaga seperti Asian Productivity Organization (APO), juga menjadi bagian dari kebijakan yang mendukung.

Penguatan Infrastruktur dan Riset untuk Produktivitas yang Lebih Baik

Ariyo DP Irhamna, peneliti dari Institute For Development of Economics and Finance (Indef), menambahkan bahwa selain penguatan SDM dan kebijakan terkait, pemerintah juga perlu memberikan insentif yang lebih selektif kepada investor. 

"Reformasi kebijakan pajak dan insentif investasi perlu dilakukan, terutama dengan mensyaratkan transfer teknologi, penguatan SDM, dan integrasi pemasok domestik," ujar Ariyo. 

Pemerintah harus mendorong kebijakan yang tidak hanya mendirikan pabrik perakitan, tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi dan teknologi yang lebih berbasis pada bahan baku domestik.

Selain itu, Ariyo juga menyoroti pentingnya komersialisasi riset dan inovasi dalam negeri yang selama ini terabaikan. Banyak hasil riset dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan universitas yang hanya berhenti pada tahap prototipe atau bahkan paten tanpa diteruskan ke tahap produksi. 

Oleh karena itu, reformasi di sektor riset dan hak kekayaan intelektual (HKI) diperlukan agar proses paten bisa lebih cepat dan murah. Di samping itu, pemerintah juga perlu memfasilitasi matching grants untuk riset yang bisa diterapkan langsung di sektor industri.

Meningkatkan Keterhubungan Antar-Sektor untuk Daya Saing Global

Selain itu, Ariyo menekankan pentingnya membangun keterhubungan antara sektor riset dan industri. Ini mencakup penguatan lembaga riset, terutama dalam hal pengelolaan teknologi yang dapat langsung diterapkan ke pasar. 

Pemerintah juga harus memberi insentif kepada perusahaan yang membeli lisensi teknologi dari lembaga riset domestik untuk mempercepat proses komersialisasi.

"Jika tidak ada jembatan antara laboratorium dan pasar, investasi riset tidak akan pernah bisa menjelma menjadi produktivitas industri yang nyata," kata Ariyo. 

Oleh karena itu, kolaborasi antara lembaga riset dan industri menjadi kunci dalam transformasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas nasional dan mendongkrak daya saing Indonesia.

Transformasi yang Terencana dan Kolaboratif untuk Produktivitas

Sebagai kesimpulan, para ekonom sepakat bahwa Indonesia perlu melaksanakan transformasi sektor industri padat karya untuk meningkatkan produktivitas. 

Hal ini memerlukan langkah terencana yang melibatkan berbagai elemen seperti peningkatan kualitas SDM, penguatan kebijakan, serta kolaborasi antara sektor riset dan industri. 

Dengan strategi yang tepat, Indonesia berpotensi mengejar ketertinggalan dalam produktivitas dan memperkuat daya saingnya di pasar global.

Terkini