JAKARTA - Ketidakpastian yang terus membayangi pasar saham global dan domestik membuat lembaga keuangan besar menata ulang pendekatan investasi mereka. Di tengah sorotan terhadap kemungkinan perubahan indeks saham global, terutama rebalancing MSCI, United Overseas Bank (UOB) menegaskan strategi investasi defensif yang menempatkan kualitas fundamental perusahaan sebagai prioritas utama.
Pendekatan Investasi Defensif di Tengah Volatilitas Saham
UOB mengungkapkan bahwa fokus utama strategi mereka bukan lagi berburu keuntungan yang digerakkan oleh sentimen jangka pendek, seperti harapan masuknya saham tertentu ke dalam indeks MSCI. Menurut perwakilan UOB dalam diskusi pasar, kondisi pasar saat ini penuh dengan spekulasi, sehingga pendekatan yang lebih konservatif diperlukan. “Untuk saat ini kami cenderung defensif. Kami fokus pada perusahaan dengan kualitas laba yang baik dan menghindari saham-saham yang hanya digerakkan oleh ekspektasi masuk MSCI,” ujar perwakilan UOB.
Langkah ini muncul ketika banyak investor institusi di Indonesia mempertimbangkan kembali eksposur mereka terhadap saham-saham tertentu setelah kekhawatiran tentang perubahan metodologi free float yang diusulkan oleh penyedia indeks global. Pertimbangan ini membuat beberapa saham yang semula dinilai berpotensi masuk ke dalam indeks menjadi kurang menarik bagi portofolio jangka pendek.
Fundamental Emiten Jadi Sorotan Utama
Dalam penjelasannya, UOB menilai bahwa valuasi yang rasional, kualitas earnings, dan stabilitas laba merupakan faktor yang akan menjadi penentu keberlanjutan investasi di pasar modal. Berbeda dengan saham yang bergerak tajam karena sentiment, emiten dengan fundamental kuat diproyeksikan mampu lebih tahan terhadap gejolak pasar.
Salah satu sektor yang mendapat sorotan adalah sektor perbankan, yang dinilai memiliki profil fundamental lebih stabil dibandingkan sektor lain. Selain itu, beberapa bank besar juga menawarkan dividend yield menarik — termasuk yang mencapai dua digit — yang dianggap dapat memberikan bantalan terhadap tekanan pasar yang fluktuatif.
Emas: Aset Menarik yang Volatil
Selain itu, UOB juga mengomentari dinamika saham produsen emas. Menurut bank tersebut, emas sebagai aset memiliki daya tarik tersendiri karena pergerakannya dipengaruhi oleh harga emas dunia dan situasi geopolitik global. Namun demikian, mereka juga menyadari bahwa volatilitas harga emas — dan oleh karenanya saham produsen emas — dapat sangat tinggi.
Pergerakan saham-saham emiten emas akhir-akhir ini mengalami kenaikan tajam diikuti koreksi signifikan, yang menurut UOB adalah reaksi pasar terhadap harga yang terlalu cepat naik serta tekanan dari isu MSCI dan pelemahan harga komoditas global.
Sektor-sektor yang Masih Dihindari
Meski ada fokus pada sektor tertentu yang lebih defensif, UOB juga mengidentifikasi kategori saham yang mereka anggap kurang menarik dalam jangka pendek. Pertama adalah saham-saham yang saat ini dikaitkan dengan spekulasi masuknya ke indeks MSCI — yang pergerakannya lebih didorong harapan indeks daripada kinerja fundamental.
Kemudian, saham dengan valuasi yang dinilai terlalu mahal tanpa didukung pertumbuhan laba yang kuat juga menjadi bagian dari daftar yang dihindari sementara. UOB menyampaikan bahwa valuasi mahal tanpa dasar earnings yang sehat membuat saham-saham tersebut rentan terhadap koreksi harga ketika sentimen pasar melemah.
Perhatian tambahan juga tertuju pada perubahan metodologi perhitungan free float oleh MSCI. Jika perubahan kebijakan menghitung free float — khususnya terkait pemilikan afiliasi — tidak lagi diperhitungkan, hal ini bisa menurunkan bobot indeks Indonesia di indeks global. Meski demikian, UOB menilai potensi outflow akibat perubahan tersebut kemungkinan tidak akan sebesar kekhawatiran jika status Indonesia turun menjadi frontier market.
Menghadapi Tantangan Pasar Saham Indonesia
Strategi investasi defensif yang dipilih UOB mencerminkan tantangan yang tengah dihadapi oleh pasar modal Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Ketidakpastian terhadap penilaian indeks global telah memicu pelaku pasar untuk menimbang ulang alokasi aset mereka berdasarkan kualitas fundamental dan stabilitas perusahaan dibanding dorongan indeks atau momentum pasar.
Beberapa analis bahkan mengaitkan kekhawatiran soal transparansi dan struktur pasar dengan potensi outflow investasi besar dari pasar modal Indonesia — sebuah dinamika yang dapat memperburuk tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).