JAKARTA - Ramadan selalu identik dengan peningkatan kebutuhan rumah tangga.
Masyarakat berbondong-bondong membeli bahan makanan, pakaian baru, perlengkapan ibadah, hingga hadiah untuk keluarga. Di era digital seperti sekarang, aktivitas tersebut banyak dilakukan melalui platform e-commerce karena dinilai lebih praktis dan efisien.
Kemudahan memilih produk, membandingkan harga, serta bertransaksi hanya melalui ponsel membuat belanja online menjadi pilihan utama.
Promo besar-besaran yang biasanya hadir menjelang Lebaran juga semakin mendorong lonjakan transaksi. Tidak heran jika setiap Ramadan, volume pembelian di marketplace meningkat signifikan dibandingkan bulan biasa.
Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat risiko yang tidak bisa diabaikan. Meningkatnya aktivitas belanja digital sering kali dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan berbagai modus penipuan. Oleh karena itu, kewaspadaan menjadi kunci utama agar masyarakat tetap aman saat bertransaksi.
Risiko Penipuan dan Modus yang Semakin Beragam
Pertumbuhan ekosistem digital di Indonesia berjalan sangat cepat. Banyak pelaku usaha beralih ke platform online untuk menjangkau lebih banyak pelanggan. Peningkatan jumlah toko digital ini memang membawa dampak positif bagi perekonomian, tetapi juga membuka celah bagi pihak tidak bertanggung jawab.
Penipuan online menjadi salah satu bentuk kejahatan siber dengan laporan tertinggi setiap tahunnya. Modusnya pun terus berkembang. Mulai dari toko fiktif yang tidak pernah mengirimkan barang, manipulasi harga dengan iming-iming diskon besar, hingga pencurian data pribadi melalui teknik phishing.
Phishing biasanya dilakukan dengan mengirim tautan palsu yang menyerupai situs resmi marketplace atau perbankan. Jika korban memasukkan data login atau informasi kartu pembayaran, pelaku dapat dengan mudah menyalahgunakannya. Selain itu, ada juga modus meminta korban mentransfer uang langsung ke rekening pribadi di luar sistem aplikasi.
Risiko lain muncul saat konsumen menggunakan jaringan Wi-Fi publik tanpa perlindungan memadai. Peretas dapat menyadap informasi sensitif seperti nomor kartu kredit atau kata sandi melalui serangan tertentu. Inilah sebabnya literasi keamanan digital sangat penting, terutama saat Ramadan ketika transaksi meningkat tajam.
Langkah Praktis Agar Belanja Tetap Aman
Agar terhindar dari penipuan, konsumen perlu menerapkan langkah-langkah preventif sebelum dan saat bertransaksi. Langkah pertama adalah memastikan toko tempat berbelanja memiliki reputasi baik.
Periksa ulasan dan rating dari pembeli sebelumnya. Pilih toko dengan penilaian tinggi serta komentar yang terlihat alami dan beragam. Hindari toko dengan ulasan seragam atau mencurigakan. Jika tersedia, utamakan berbelanja di official store atau toko dengan tanda verifikasi dari platform.
Saat melakukan pembayaran, gunakan jaringan internet yang aman. Hindari menggunakan Wi-Fi publik di tempat umum karena rentan diretas. Lebih baik menggunakan paket data pribadi atau Wi-Fi rumah yang dilindungi kata sandi kuat.
Jangan mudah tergiur diskon yang tidak masuk akal. Jika harga suatu produk jauh lebih murah dibandingkan harga pasar, patut dicurigai adanya penipuan. Selalu cek harga pembanding di beberapa toko untuk memastikan kewajaran penawaran.
Selain itu, abaikan tautan promosi yang dikirim melalui SMS, email, atau pesan instan dari nomor tidak dikenal. Untuk memastikan kebenaran promo, buka langsung aplikasi resmi marketplace melalui perangkat Anda.
Gunakan sistem pembayaran yang disediakan platform e-commerce. Sistem ini biasanya menahan dana hingga pembeli mengonfirmasi barang diterima dengan baik. Jangan pernah mentransfer uang langsung ke rekening pribadi penjual di luar aplikasi.
Yang tidak kalah penting, jangan pernah membagikan kode OTP, PIN, atau CVV kartu kredit kepada siapa pun. Pihak marketplace maupun bank tidak pernah meminta informasi tersebut melalui telepon atau pesan pribadi.
Pastikan juga aplikasi marketplace dan sistem operasi perangkat selalu diperbarui. Pembaruan rutin biasanya mengandung patch keamanan untuk menutup celah yang bisa dimanfaatkan peretas. Jika memungkinkan, gunakan perangkat lunak antivirus terpercaya untuk perlindungan tambahan.
Pentingnya Literasi dan Kehati-hatian Konsumen
Keamanan transaksi digital tidak hanya bergantung pada sistem platform, tetapi juga pada perilaku konsumen. Sikap terburu-buru saat berburu promo sering kali membuat orang lengah.
Membaca deskripsi produk secara detail, memperhatikan kebijakan pengembalian barang, serta menyimpan bukti transaksi adalah kebiasaan sederhana yang sangat membantu.
Bandingkan harga dan spesifikasi sebelum membeli, terutama untuk produk elektronik atau barang bernilai tinggi. Pastikan foto dan deskripsi produk terlihat jelas serta konsisten. Jika ada hal mencurigakan, jangan ragu untuk bertanya kepada penjual melalui fitur chat resmi.
Selain itu, biasakan menggunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun. Kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol akan membuat akun lebih sulit diretas. Aktifkan juga fitur verifikasi dua langkah jika tersedia.
Dengan literasi digital yang baik, konsumen dapat mengurangi risiko menjadi korban kejahatan siber. Kesadaran dan kewaspadaan adalah perlindungan pertama dalam bertransaksi online.
Langkah Cepat Jika Menjadi Korban Penipuan
Meski sudah berhati-hati, kemungkinan risiko tetap ada. Jika merasa menjadi korban penipuan, segera lakukan tindakan cepat.
Hubungi pihak bank untuk memblokir kartu kredit, kartu debit, atau rekening yang terkait transaksi mencurigakan. Tindakan ini penting untuk mencegah kerugian lebih besar.
Selanjutnya, laporkan kejadian tersebut melalui fitur pengaduan di aplikasi marketplace agar akun penjual fiktif dapat segera ditindak. Simpan seluruh bukti seperti tangkapan layar percakapan, detail transaksi, dan bukti transfer untuk mendukung laporan.
Semakin cepat Anda bertindak, semakin besar peluang untuk meminimalkan kerugian. Jangan menunda atau merasa ragu untuk melapor.
Ramadan 2026 menjadi momen penuh berkah sekaligus periode dengan aktivitas belanja digital yang sangat tinggi. Kemudahan e-commerce memang memberikan banyak keuntungan, tetapi risiko penipuan tetap mengintai.
Dengan memahami berbagai modus kejahatan siber serta menerapkan langkah-langkah keamanan secara konsisten, masyarakat dapat menikmati belanja online dengan lebih tenang.
Kewaspadaan, literasi digital, dan tindakan cepat saat terjadi masalah adalah kunci utama agar Ramadan tetap aman dan nyaman tanpa gangguan penipuan digital.