JAKARTA - Pemerintah Indonesia kembali menegaskan percepatan penyediaan hunian sementara bagi korban bencana banjir dan longsor di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan target utama bahwa semua pengungsi sudah berada di rumah sementara atau menerima bantuan dana tunggu hunian sebelum memasuki bulan puasa Ramadan 1447 H yang diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026.
Dalam sejumlah pernyataan resmi yang dirangkum Kompas.com dan sumber lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah terus menggenjot pembangunan hunian sementara (huntara) sekaligus menyiapkan dukungan bantuan lain untuk meringankan beban ribuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana hidrometeorologi di pulau Sumatera akhir tahun lalu.
Percepatan Pembangunan Hunian Sementara di Sumatera
Pemerintah, melalui BNPB dan instansi terkait, menetapkan target bahwa pembangunan hunian sementara harus diprioritaskan sebelum bulan Ramadan tiba. Hal ini menjadi fokus utama agar para pengungsi tidak lagi tinggal di tenda pengungsian saat bulan suci umat Islam dimulai.
Strategi percepatan itu mencakup kerja sama lintas instansi, dengan BNPB berkoordinasi bersama pemerintah provinsi, kabupaten, serta pemerintah pusat untuk menyelesaikan proyek huntara di berbagai lokasi terdampak bencana. Pemerintah daerah juga diminta menyiapkan lokasi strategis dan aman dari potensi bencana susulan sebagai tempat pembangunan hunian sementara.
Para pejabat BNPB yang dikutip menyatakan bahwa percepatan ini dilakukan agar masyarakat terdampak memiliki hunian yang layak, nyaman, serta dapat mendukung pemulihan psikososial dan ekonomi keluarga setelah melewati fase tanggap darurat.
Dana Tunggu Hunian sebagai Solusi Alternatif
Selain pembangunan fisik hunian sementara, pemerintah juga menyediakan skema bantuan dana tunggu hunian bagi pengungsi yang rumahnya rusak berat atau tidak memungkinkan lagi untuk dihuni. Bantuan ini diberikan sebagai alternatif sementara sambil menunggu huntara atau hunian tetap siap ditempati.
Dana tunggu hunian ini bersifat tunai dan dapat dimanfaatkan keluarga terdampak untuk kebutuhan mendesak seperti biaya sewa rumah, kebutuhan harian, serta penyiapan ruang tinggal sementara yang layak. Skema bantuan ini diharapkan dapat mempercepat transisi pengungsi dari titik pengungsian ke hunian sementara sebelum Ramadan.
Harapan Pemerintah dan Perkembangan Terkini
Pihak pemerintah optimistis bahwa percepatan pembangunan huntara dan dukungan dana akan membantu meringankan beban ribuan keluarga yang selama ini tinggal di tenda pengungsian. Targetnya, semua masyarakat terdampak dapat segera meninggalkan lokasi pengungsian dan berada di hunian sementara atau sudah memenuhi syarat menerima rumah layak sebelum Ramadan.
Gubernur serta pejabat daerah yang wilayahnya terdampak bencana pun menyatakan dukungan penuh terhadap upaya percepatan ini, termasuk penyiapan lahan dan fasilitas publik yang diperlukan di sekitar hunian sementara. Pemerintah daerah juga terlibat aktif dalam memastikan listrk, air bersih, sanitasi, dan jaringan pelayanan dasar lainnya tersedia bagi para pengungsi yang akan menempati hunian baru.
Tantangan dan Dukungan Lintas Sektor
Meski progres pembangunan hunian sementara terus digesa, sejumlah tantangan tetap muncul, terutama terkait kesiapan bahan material, kebutuhan tenaga kerja, akses transportasi ke lokasi pembangunan, serta kondisi cuaca yang terkadang menghambat pengerjaan lapangan.
Untuk itu, pemerintah menggandeng berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat sipil, perusahaan konstruksi, serta relawan lokal, agar proses pembangunan berjalan lebih cepat dan efektif. Dukungan logistik, sumber daya teknik, serta bantuan kemanusiaan lainnya menjadi bagian dari upaya terpadu dalam fase pemulihan pascabencana.