Ekspor Tekstil

AGTI Sambut ART dengan AS, Dorong Pertumbuhan Ekspor Tekstil Nasional

AGTI Sambut ART dengan AS, Dorong Pertumbuhan Ekspor Tekstil Nasional
AGTI Sambut ART dengan AS, Dorong Pertumbuhan Ekspor Tekstil Nasional

JAKARTA - Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) menyambut baik penandatanganan The Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) pada Kamis, 19 Februari 2026.

Kesepakatan ini menetapkan tarif resiprokal dan pengecualian tarif bagi produk unggulan Indonesia, termasuk tekstil, yang akan memasuki pasar AS.

“Kesepakatan tarif resiprokal ini perlu dicermati secara serius oleh industri garmen dan tekstil nasional,” ujar Ketua Umum AGTI, Anne Patricia Sutanto. 

Menurut Anne, hampir setengah ekspor TPT Indonesia pada tahun lalu sekitar 42,6 persen terserap oleh pasar AS. Hal ini menunjukkan perubahan kebijakan tarif di AS akan berdampak signifikan pada kinerja industri nasional.

Melalui ART, pemerintah AS menurunkan tarif resiprokal dari 32 persen menjadi 19 persen, serta membuka pengurangan tarif hingga 0 persen melalui mekanisme Tariff-Rate Quota (TRQ) untuk produk tekstil Indonesia. 

Sementara itu, Indonesia akan meningkatkan impor produk pertanian dari AS untuk mendukung kebutuhan industri makanan, minuman, dan tekstil domestik.

Posisi Daya Saing Indonesia di Tengah Kompetisi Global

Anne menekankan, meskipun ada pengurangan tarif, industri TPT Indonesia tetap harus mengantisipasi kompetisi global. 

Beban tarif dapat memicu negosiasi ulang harga dengan buyer atau mendorong efisiensi lebih agresif di sepanjang rantai pasok. Dampak nyata akan sangat bergantung pada posisi tarif Indonesia dibandingkan pesaing utama seperti Vietnam, Bangladesh, atau China.

“Jika tarif relatif setara, daya saing Indonesia masih terjaga. Sebaliknya, perbedaan tarif signifikan bisa memicu pergeseran sourcing,” ungkap Anne.

AGTI menilai fondasi daya saing Indonesia kuat, mulai dari kapasitas produksi yang terintegrasi, pengalaman memenuhi standar pasar AS, hingga kemampuan memasok berbagai segmen produk. Kondisi ini memberi kelebihan strategis dalam persaingan global.

Tantangan dan Peluang ART bagi Industri TPT

Selain peluang, ART menimbulkan tantangan yang perlu diantisipasi. Salah satunya terkait level playing field, di mana industri menuntut kepastian Indonesia tidak kalah kompetitif dibanding negara produsen tekstil lain.

“Momentum ini juga menjadi dorongan untuk memperkuat industri bahan baku domestik dan diversifikasi pasar ekspor,” tambah Anne.

Dari sisi neraca perdagangan, Indonesia memiliki posisi surplus dengan AS. Ekspor Indonesia didominasi produk jadi, khususnya garmen dan apparel bernilai tambah tinggi. 

Sementara impor dari AS relatif terbatas pada bahan baku tertentu, seperti kapas dan material spesifik, yang mendukung industri dalam negeri. Hubungan ini menunjukkan perdagangan TPT bersifat saling melengkapi, dengan Indonesia sebagai mitra produksi utama.

Tren Ekspor dan Transformasi Industri Berkelanjutan

AGTI memproyeksikan nilai ekspor TPT Indonesia ke AS akan meningkat sepanjang 2026, didukung tren diversifikasi rantai pasok global. Buyer berupaya memperluas basis sourcing, dan Indonesia berada di posisi strategis berkat kapasitas produksi terintegrasi dari hulu ke hilir.

Anne menekankan tren ESG, traceability, dan praktik produksi berkelanjutan menjadi peluang bagi industri nasional. “Industri yang terus menyesuaikan standar global akan mendapatkan nilai lebih di pasar ekspor,” jelasnya.

Analisis AGTI menunjukkan slope nilai ekspor positif sekitar US$ 5 juta per bulan, yang mengindikasikan pertumbuhan bertahap sepanjang tahun. Meski optimistis, Anne menekankan efisiensi biaya produksi, penguatan industri hulu, dan kepastian kebijakan perdagangan tetap menjadi faktor krusial.

SWC dan Implikasi Kebijakan Impor

Salah satu sorotan dalam ART adalah impor Shredded Worn Clothing (SWC) dari AS untuk kebutuhan bahan baku industri kain perca dan benang daur ulang. Beberapa asosiasi khawatir ini bisa membuka celah masuknya pakaian bekas.

Namun, Anne meyakinkan bahwa prosedur bea cukai AS ketat dan memerlukan lisensi untuk manufaktur daur ulang. 

“Ini bukan negara abal-abal, mereka punya mekanisme ketat sehingga tidak ada penyimpangan barang. Fokus kita adalah kejelasan mekanisme B2B dan lisensi perusahaan,” tegas Anne.

Secara keseluruhan, ART memberikan peluang pertumbuhan ekspor TPT Indonesia sekaligus menuntut penguatan daya saing domestik, efisiensi produksi, serta kepastian kebijakan perdagangan. Dengan fondasi pasar AS yang besar, industri garmen dan tekstil Indonesia memiliki prospek positif di tahun 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index